Jalak Bali/Curik BaliBurung indah "berkacamata" biru itu semakin sulit ditemui di habitat aslinya di Taman Nasional Bali Barat. Jika hal itu terus berlanjut, Provinsi Bali sebagai daerah endemis curik bali bersiap menjadi bagian dari sejarah.
Dan, entitas curik bali pun hanya akan menetap sebagai simbol kemapanan dan satwa klangenan semata. Langkanya curik bali di habitat aslinya sudah tidak dapat diperdebatkan lagi. Senja kala sepertinya benar-benar terjadi bagi curik bali di Pulau Dewata.
Menurut catatan Direktorat Konservasi Keanekaragaman Hayati Departemen Kehutanan, populasi curik bali tahun 1924 diperkirakan masih 1.000 ekor dengan luas habitat sekitar 370 kilometer persegi atau hingga seputar Tabanan, Bali.
Pada era 1990-an, populasinya menyusut menjadi 100 ekor dengan luas habitat sekitar 16 kilometer persegi dan tahun 2005 jumlahnya tinggal 13 ekor, sementara habitatnya tinggal tiga kilometer persegi saja.
Bahkan, survei yang melibatkan peneliti dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) dan para pencinta burung, termasuk Forum Konservasi Satwa Liar Indonesia (Foksi), Januari 2005, hanya menemukan lima ekor saja. Termasuk kenyataan hanya satu curik yang ditemukan tanpa cincin melingkar di pergelangan kakinya. Artinya, hanya seekor yang diduga benar-benar tumbuh di habitat aslinya, sementara sisanya lepasan setelah ditangkarkan.
Hal itu diakui Tony Sumampau, Ketua Asosiasi Pelestari Curik Bali (APCB) yang juga pemilik Taman Safari. Ia mengungkapkan, 149 curik bali yang pernah dilepas di Taman Nasional Bali Barat (TNBB) itu sudah dapat dikatakan tidak ada lagi. Mereka tak tentu rimbanya. Sementara jumlah curik di sejumlah tempat penangkaran yang terdata di APCB berkisar 800-900 ekor, termasuk yang ada di Pusat Penelitian dan Pelestarian Curik Bali, Kota Yokohama, Jepang.
Kepala TNBB Hendrik Siubelan mengakui, pihaknya tidak dapat memastikan berapa jumlah curik bali di TNBB saat ini. "Padahal, sejak tahun 2000 sudah ada 85 curik Bali yang kami lepas di sekitar hutan Brumbun ini. Namun, yang terpantau tidak lebih dari 20 persennya. Sisanya entah ke mana," kata Hendrik, pertengahan Februari lalu.
Maraknya kasus penangkapan curik bali secara ilegal serta rusaknya habitat asli akibat aktivitas manusia disinyalir menjadi dua penyebab utama kondisi itu. Menurut Hendrik, penangkapan ilegal curik bali juga seiring dengan penangkapan ikan hias serta pengambilan terumbu karang di sekitar TNBB yang juga cukup marak. Selama tahun 2006, terdapat enam kasus penangkapan curik bali secara ilegal yang ditangani pengelola TNBB bersama kepolisian setempat.
Permintaan masyarakat penggemar curik bali diakui Tony saat ini masih sangat tinggi dan mereka mau mendapatkan seekor curik bali dengan harga antara Rp 20-Rp 40 juta, tergantung kualitas burung.
Bercermin dari kondisi itu, dapat diketahui motif perampokan yang pernah terjadi terhadap penangkaran curik bali milik TNBB di Tegal Bunder tahun 2000. Kala itu, 39 ekor curik berhasil disikat kawanan perampok setelah berhasil mengikat sejumlah penjaganya.
"Harus ada upaya masif untuk menambah populasi curik bali sehingga lambat laun harganya terus turun. Idealnya harga seekor Rp 1-2 juta saja sehingga tidak ada orang yang bakalan nekat menyeberang lautan dan masuk ke TNBB untuk mencuri curik," kata Tony.
Dengan areal seluas hampir 20.000 hektar di ujung barat Pulau Bali yang secara administratif masuk Kabupaten Jembrana, TNBB memang memunculkan persoalan tersendiri dalam hal penjagaan. Seperti diakui Hendrik, 131 petugas taman jelas bukan jumlah yang ideal.
Adanya jalan yang dapat dilalui kendaraan roda dua maupun roda empat yang menghubungkan sejumlah kawasan di TNBB seakan merupakan "jalan masuk" bagi para pencuri curik bali.
Apalagi di sekitar hutan yang termasuk TNBB itu juga terdapat kawasan permukiman yang sehari-hari menggantungkan hidupnya dari pertanian ladang dan bekerja sebagai buruh di perusahaan pemrosesan kayu di hutan Bali Barat.
Habitat rusak
Aktivitas manusia akhirnya memengaruhi habitat satwa-satwa di TNBB, termasuk curik bali. Selain aktivitas yang berhubungan dengan pengubahan kawasan hutan, pengambilan air dari sejumlah mata air di kawasan itu semakin memarjinalkan satwa-satwa.
Dapat dikatakan, mereka tidak dapat hidup lagi di kawasan itu karena ketiadaan air sebagai sumber kehidupan.
Mas Noerdjito, peneliti LIPI, menyatakan, curik bali memerlukan dua tipe habitat untuk dapat bertahan hidup. Dua tipe habitat itu adalah di kala musim hujan di hutan musim yang mengalami ledakan jumlah pakan dan kerimbunan lebih dari delapan persen dari total areal hutan, serta saat musim kemarau di hutan yang selalu hijau. Kedua hal itu sangat berkaitan dengan air sekaligus pakan curik, yakni aneka serangga dan buah-buahan muda.
"Praktis, di musim kemarau saat-saat ini, kekeringan melanda sebagian besar TNBB. Kondisi ini mempersulit curik bali maupun hewan lainnya untuk dapat bertahan, apalagi berkembang biak secara alami," kata Noerdjito.
Di tengah kondisi demikian, menurut Tony, tidak masuk akal apabila dilakukan pelepasliaran curik bali. Kemungkinan terburuk bagi curik yang dilepas di tengah kondisi yang buruk itu adalah matinya curik.
Jika hal itu dipaksakan, dapat dipastikan akan sia-sia hasilnya. Maka, APCB saat ini tetap masih fokus pada pengembangbiakan curik di area penangkaran.
Dari 14 ekor yang mulai ditangkarkan sejak dua tahun lalu, kini jumlahnya sudah membengkak menjadi 140 ekor. APCB bertekad tidak akan melepas burung-burung itu apabila habitat aslinya di TNBB masih seperti sekarang.
Untuk merekonstruksi maupun memulihkan habitat aslinya, menurut Noerdjito, tidak mudah. Dari formasi geologi bagian barat diketahui terdapat empat formasi, yakni formasi daerah Semenanjung Prapat Agung yang terdiri dari batuan gamping tertutup tanah mediteran coklat. Topografinya di tengah semenanjung berbukit, sementara di pantai berupa dataran rendah yang sempit. Debit airnya sangat minim, kurang dari 0,1 liter per detik.
Kedua adalah batuan gunung api Jembrana, yang juga tertutup tanah latosol coklat serta litosol. Kawasan ini sebagian besar bertopografi terjal dan berhutan alami.
Ketiga, kawasan antara Prapatagung dan gunung api Jembrana yang terdiri dari endapan aluvial tertutup tanah aluvial coklat kelabu. Debit air di kawasan ini sekitar lima liter per detik. Namun, hampir seluruh hutan di kawasan ini sudah dialihgunakan. Sebagian dijadikan lahan perkebunan dan sebagian lainnya dijadikan lahan hutan aneka tanaman, seperti sono keling, cendana, sawo kecik.
Terakhir, formasi Palasari, tertutup tanah latosol, bertopografi landai. Sayang, hampir seluruh hutan di kawasan ini dialihgunakan menjadi hutan tanaman jati dan kayu putih.
"Ekstremnya, untuk menyelamatkan habitat curik dan aneka satwa lain di TNBB, seluruh kawasan hutan di Bali barat perlu dijadikan taman nasional sehingga total wilayahnya mencapai 70.000 hektar. Berarti, harus ada relokasi warga di dua kawasan, yakni Sumberklampok dan Sumberbatok," kata Noerdjito.
Pelepasliaran
Pengelola TNBB sendiri masih mempunyai idealisme untuk melanjutkan program pelepasliaran curik bali di habitat aslinya. Pengelola TNBB, seperti ditegaskan Hendrik Siubelan, terus membuka kemungkinan untuk memasukkan seluruh area di TNBB dalam area inti dan rimba TNBB sehingga terbebas dari aktivitas manusia. Termasuk pula memagari area habitat curik seiring dengan memperketat pengawasan terhadap TNBB.
Jumlah aman populasi curik di habitat aslinya minimal harus 500 ekor sehingga dapat bertahan hingga 100 tahun mendatang. Telah disusun strategi konservasi curik bali sebagai hasil rinci dari proses konsultasi publik dan hasil evaluasi dari kegiatan konservasi sebelumnya.
"Program penangkaran tetap kami lanjutkan di Tegal Bunder, di mana saat ini terdapat 115 ekor. Selama ini tidak ada kesulitan untuk membiakkan, tetapi kami lupa untuk mengenal karakteristik hidup curik itu secara detail di habitat aslinya. Termasuk, misalnya, daya tahan ketika menghadapi iklim ekstrem kering seperti di TNBB ini," kata Hendrik.
Program kerja sama dengan Pusat Penelitian dan Pelestarian Curik Bali, Kota Yokohama, semakin diintensifkan. Baru saja dilakukan program pemasangan trasmitter khusus di enam curik bali yang dilepasliarkan di habitatnya.
Alat itu berfungsi mendeteksi keberadaan si burung dalam periode waktu enam bulan. Pengembangan alat itu dari sisi jumlah diharapkan dapat lebih membantu proses pemantauan curik di habitat aslinya, terutama daerah jelajahnya, termasuk ketika dicuri.
Bersamaan dengan program pemasangan alat itu, juga dilakukan pelatihan bagi sejumlah petugas taman, terutama tentang pemasangan transmitter hingga pemantauan curik pascapemasangan alat itu.
.'
kirim ke teman |
versi cetak