| |
Parade Berita |
Jajak Pendapat |
Event SESKOAU |
 Dilihat : 3 Pengirim : admin Komentar : 0 Sindikasi Berita |
|
|
 |
|
Tentang Kami Akhirnya selesai juga pendidikan Sesko ini! Ketika medio Januari 2006 baru dibuka, kita semua masih ”awang-awangen” (masih diliputi kabut misteri) bakal kayak apa pendidikan tertinggi tingkat matra yang konon katanya sangat bergengsi ini, akan kita tempuh. Sebagian dari kita bertanya-tanya, mampu ga ya saya menyelesaikannya? Yang lain cuek dan yakin semuanya pasti berjalan sebagaimana mestinya dan waktu yang akan ”menyelesaikan”nya. Sebagian lagi sangat pede karena toh ada fasilitas ”Pentium 10”. Sebagian besar memang berpandangan, ya jalani dan nikmati sajalah.
Biarlah semua persepsi dan perspektif kita di awal pendidikan itu seperti itu jua adanya. Kita ga harus selalu sama, biarlah yang sama seragam kita saja, tapi otak di dalam kepala kita masing-masing biarlah berwarna-warni bagai pelangi. Yang otaknya sama cuma bebek dan yang pasti kita bukan bebek. Kita perwira, menengah lagi!
Termasuk ketika kita berdebat yang nyaris seperti kusir delman (makanya disebut debat kusir), ketika menyoal tentang format BUKU KENANGAN (BK) kita. Pendidikan (apalagi sesko graduate!) tanpa BK sebagai kenangan dan sejarah pendidikan memang absurd. Sejatinya 90 % dari kita sebenarnya sejak awal setuju dan sepakat tentang format dalam wujud fisik yang tercetak lux dan full color. Hanya sekitar 10 % saja yang menolak format fisik, karena secara kebetulan BK dibicarakan di akhir pendidikan ketika dana senat kian cekak lantaran telah terkuras oleh program-program di awal dan medio pendidikan. Juga ketika angka (pembuatannya) disandingkan dengan biaya ”kenangan untuk lembaga” yang kini kokoh berdiri dalam wujud pagar besi dilapisi krom yang dahsyat dan ”medeni” itu. Pada saat yang sama betapa susahnya teman-teman mengumpulkan data dan foto (padahal waktu kian mepet). Jadi, klop sudah: BK fisik yang tercetak memang ditakdirkan tak pernah lahir dan hadir di tengah-tengah kita, meski kita tahu betapa berarti dan bermaknanya BK tersebut ketika kita sudah pada jadi kolonel dan marsekal!!!
Tapi, sudahlah, nasi sudah menjadi bubur. Sebagai perwira yang konon disebut ”sesko graduate”, lebih baik kita berpikir positif dan konstruktif. Kendati BK fisik tak lagi mungkin dibikin, akal sehat kita masih menyisakan kreatifitas dengan membuat dalam format web yang kemudian di-upload ke dunia maya internet menjadi website kita: www.seskoau43.com. Bagi teman-teman yang ingin memiliki dalam wujud fisik, kalian bisa nge-print sendiri dari CD yang dibagikan. Tinggal siapkan printer yang sehat berikut tinta baru serta kertas art paper biar hasilnya bagus. Sementara dari situs web, kita bisa meng-up date data dengan catatan mau mengirim data terbaru tersebut ke redaksi melalui email.
Walhasil, ternyata – secara tak sengaja – kekonyolan dan kengeyelan kita berdebat soal format dan biaya bikin BK, membawa kita ke ranah canggih yang mestinya memang harus kita masuki: dunia ”ai-ti” alias information technology. Dengan website, kita memasuki dunia global tanpa batas (borderless). Artinya, kalau kamu kebetulan nanti ditugaskan sebagai PBU atau bahkan Athan di USA misalnya, kamu bisa membuka website ini dan sekaligus menyampaikan aspirasi ataupun pengalaman kamu sehingga bisa dibaca oleh teman-teman lain di tanah air. Pada saat yang sama, siapapun manusia di muka bumi ini, dari bangsa manapun dia, entah Indian, Cina, Afrika, atau Russia, asal mereka ngerti bahasa Indonesia maka merekapun bisa membuka dan menyimak isi website kita. Begitulah, internet memang dunia telanjang yang terbuka untuk siapa saja. Kita tak bisa menghindarinya, kita harus memasukinya. Apalagi kita ini komunitas Air Force yang katanya tiap hari makan doktrin ”padat materiil berbobot teknologi”. Sangat naif kalau dunia internet ga ngerti akibat gagap teknologi (gaptek).
Akhirnya, marilah kita syukuri keberhasilan kita menyelesaikan pendidikan Seskoau 43. Mungkin bagi sebagian besar kita ini adalah pendidikan terakhir, tapi bagi sebagian lain yang mungkin sudah didesain akan jadi pemimpin, dalam beberapa tahun kedepan akan ketemu pendidikan yang lebih tinggi: Sesko TNI hingga Lemhannas. Bagus-bagus saja sekolah, yang penting serius dan diniati cari ilmu – bukan cuma tidur atau mengandalkan KDOL atau TAIPAK. Mudah-mudahan kita sukses semua, minimal Kolonel di tangan. Soalnya kalau habis-habisan buat ”nyesko” (lahir batin, moril materiil) tapi ga bisa Kolonel, wah benar-benar jadi pecundang kalian! Masak kalah sama PNS (perwira non sesko) yang karena nasib baik dan koneksi malah jadi Kolonel!
Selamat berjuang. Bravo FOURTY THREE!!!
Lembang, 6 oktober 2006
|
|