Pak Imron, begitu saya biasa memanggilnya. Saya mengenalnya lewat ayah saya. Sudah 7 tahun Imron menderita stroke, bicaranya ngga jelas, tubuhnya gemetar, bahkan berjalan pun sangat sulit. Alhamdulillah kondisinya kini sudah jauh lebih baik. Bicaranya sudah bisa dimengerti oleh orang lain, bahkan sudah bisa naik sepeda. Imron menjalani terapi hijamah (bekam), dibantu dengan minum obat-obatan herbal.
Suatu hari Imron datang kerumah saya dan mengatakan mau jualan herbal tapi ngga punya modal. “Yang penting saling percaya dan jujur”, begitu katanya. Terus terang saya ragu, apa Imron sanggup jualan dengan kondisi stroke seperti itu?. Apalagi dengan sistem konsinyasi, sangat beresiko. Masalahnya Imron adalah seorang kontraktor alias tidak mempunyai rumah sendiri, akan sulit melacaknya jika suatu hari ia melarikan barang-barang saya. Pikiran-pikiran jahat itu selalu berputar di kepala. “Dia jujur kok orangnya, jangan khawatir”, begitu ayah saya kemudian meyakinkan. Bismillah….hajar bleh…akhirnya saya kasih juga konsinyasi, walaupun tidak banyak.
Siang itu Imron datang kerumah dengan dandanan lusuh. Celana pendek dan kaos kumal, plus tas butut yang selalu setia menemani. Tampilannya benar-benar bikin saya underestimate sama dia. “Saya mau nyetor yang laku”. Wah, baru satu hari jualan udah laku aja. Saya terkejut luar biasa. “Hebat juga nih Pak Imron”, dalam hati saya bergumam”.
Kami ngobrol cukup lama, sekitar 15 menit. Dari obrolan itulah Imron memberikan saya begitu banyak pencerahan, yang membuat pandangan saya tentang beliau berubah 100 derajat. Ternyata track record beliau di dunia marketing sudah sangat panjang. “Dulu waktu saya masih sehat, saya sukanya kemana-mana, apa saja saya jual”, begitu Imron menuturkan. Jualan lampu crystal, jadi supir, bahkan pernah juga kerja di perusahaan bir, tentu saja dibagian marketing yang merupakan hobinya. “Mungkin saya begini karena dulu sering bohong ketika menjual, barang jelek saya bilang bagus. Ngomong saya jadi ngga jelas gini (karena stroke), mungkin karena dulu saya sering bohong”.
Imron tidak mau menjadi beban orang lain meski ia bisa. Dengan alasan kondisi stroke yang ia derita, dengan mudahnya ia bisa bergantung pada anak-anaknya. Namun bukan itu yang ia inginkan. “Yang penting semangat, ngga usah malu. Saya kemana-kemana naik sepeda, ngga apa-apa, sambil olahraga kok. Apalagi yang muda harus lebih semangat”, tertegun saya mendengar kata-katanya. Di lingkungan rumah saya begitu banyak anak muda yang kerjanya nongkrong, ngga ada kerjaan, nungguin mati pikir saya. Semoga semangat Imron bisa menginspirasi, selalu ada jalan selama ada kemauan.
Tangerang, 25 Mei 2010
Oleh : Arif Wahyuadi
(Perumahan Ciledug Indah 2 Blok E 7 no. 23 Kota Tangerang – Banten)
08 5678 51 558 | 947 12 887 |Pin BB: 274F3D9F
Ym & Fb: ryodojo2001@yahoo.com | Twitter: @juraganarief





















Comments
Powered by Facebook Comments